Jumat, 09 Februari 2018

Intip Lebih Dalam Lagi Mengenai Mitos Dari Monyet Bekantan

Intip Lebih Dalam Lagi Mengenai Mitos Dari Monyet Bekantan
Intip Lebih Dalam Lagi Mengenai Mitos Dari Monyet Bekantan
Liputanhidup.com - Jika dilihat dari ciri fisiknya, bisa jadi mitos tersebut memanglah benar, kalau anda mengunjungi Kalimantan Selatan, dari pulau Kambang adalah destinasi yang tidak boleh dilewatkan, dikarenakan selain unik pulau ini menyimpan mitos mengenai monyet  hidung mancung yang menjadi penghuni disana, Bekantan onyet yang berwarna oranye kecokelatan, berhidung besar, dan perut yang besar disebut sebagai kera Belanda, dikarenakan konon dulunya pulau yang dihuni Bekantan ini merupakan perwujudan dari kapal milik penjajahan yang ditenggelamkan.

Walau legenda ini hanyalah terdengar dari mulut ke mulut, tapi warga dari Kalimantan khususnya yang berada pada wilayh kabupaten Barito Kuala, pPulau Kambang memanglah mempunyai daya tarik tersendiri yang tidak dimiliki oleh para wisata lain, mengenai lengkap asal mula dari pulau Kambang dan Bekantan ini terangkum didalam artikel berikut ini.

Asal Mula Bekantan Dan Pulau Kambang
Intip Lebih Dalam Lagi Mengenai Mitos Dari Monyet Bekantan

Mitos yang telah berkembang di masyarakat Kalimantan Selatan sejak zaman dulu adalah Bekantan yang merupakan perwujudan dari orang Belanda, saat para serdadu Belanda ingin menyerang kerajaan yang saat itu dipimpin oleh Datu Pujung, mereka membelah sungai Martapura dengan kapal dan peralatan perang, tentunya hal itu dihadang oleh para pejuang banjar, tapi kurangnya senjata membuat Banjar hampir dikuasai.

Tidak kehabisan akal para pejuang berdoa ahar mereka diberikan pertolongan, dan doa mereka terkanul karena kapal perang Belanda ditenggelambah beserta para tentaranya, tidak lama kemudian kapal tersebut karam, dan muncullah pula yang dipenuhi pepohonan, tanpa ada yang mengetahui awalnya, pulau ini ternyata dihuni oleh kera yang unik, dikarenakan mempunyai hidung mancung, wajah besar sama seperti orang Belanda, dan berbulu pirang, dan berdasarkan dari mitos tersebutlah, masyarakat menamai Bekantan dengan Nama Kera Belanda.

Pulau Untuk Meminta Diwujudkan Nazarnya
Intip Lebih Dalam Lagi Mengenai Mitos Dari Monyet Bekantan

Kamunculan dari Bekantan secara tiba-tiba sera monyet yang telah dianggap sebagai jelmaan yang membuat warga setempat itu memperlakukan istimewa pulau ini, lalu pulau yang berdampingan dengan pasar apung ini sering dikunjungi dan diyakini bisa mewujudkan nazar untuk membuat permintaan dari mereka.

Terdapat banyak pengunjung yang datang dengan maksud lain, tetapi juga membawa sesajen yang berupa pisang, telur dan nasi ketan yang disertai juga dengan mayang pinang dan kembang, sesajen ini nantinya juga akan diberikan pada monyet penghuni pulau.

Kera keramat yang Di Puja Orang Tionghoa
Intip Lebih Dalam Lagi Mengenai Mitos Dari Monyet Bekantan

Selain mitos mengenai kapal Belanda yang tenggelam, masyarakat Tionghoa mempunyai cerita tersendiri berkaitan dengan pulau ini, didalam etnis Tionghoa mereka mempercayai bahwa kapan yang ditenggelamkan oleh Datu Pujang merupakan milik nenek moyang mereka, maka selain dari para pelancong, pulau Kambang ini ramai pengunjung dari etnis Tionghoa, dan bahkan untuk menghormati para leluhur, mereka yang sengaja membangun dua arca berwujud kera putih didalam kawasan hutan yang telah dilengkapi dengan tempat ditaruhnya sesajen.

Selain itu kera ini tidaklah boleh dibawa keluar dari pulau, dikarenakan takut akan kualat, pernyataan itu dikaitkan dengan kejadian terdahulu, dimana ada yang pernah membawa keluar kera tersebut keluar pulau dan keranya langsung mati.

Di Baca Juga : Inilah Sejumlah Alasan Kenapa Pria Suka Berlama-Lama Di Kamar Mandi

Penelitian Yang Masih Belum Terpecahkan
Intip Lebih Dalam Lagi Mengenai Mitos Dari Monyet Bekantan

Berdasarkan pernyataan dari CEO WWF Dr Efransjah sepakat bahwa Bekantan merupakan satwa yang masih mengandung banyak misteri yang belum dipecahkan oleh para peneliti, bukan hanya karena hidung kera saja, bahkan kera bisa mengeluarkan berbagai suara dan perutnya yang besar, bobot berat nadamn yang dapat mencapai 30 kg seharusnya membuat primata ini tidaklah bisa melompat dari pohon ke pohon lain dengan mudah.

Ditambah dengan habitat Bekantan yang berada didalam hutan berawa gelam yang merupakan kawasan dari banyak nyamuk malaria, tapi hewan besar ini dapat bertahan dan tidak terkena seranggan, Dr Efransjah juga berharap bahwa pakar secepatnya melakukan penelitian terkait kera yang hidup didaratan Kalimantan ini.

Meski ada beberapa versi mitos mengenai Bekantan yang diyakini oleh masyarakat, Bekantan tetaplah satwa endemik Indonesia yang sudah hampir punah, hal itu jelas tersaji didalam buku yang merupakan hasil penelitian yang berjudul :Bekantan" perjuangan nya melawan kepunahan, dengan itu marilah kita bersama-sama menjaga semua kekayaan alam dari negara kita Indonesia, termasuk juga semua jenis satwa langka seperti Bekantan ini.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Recent Tube

Tube

Liputan Hidup

Liputan Hidup merupakan website yang menyajikan beragam artikel menarik untuk dibaca.
Diberdayakan oleh Blogger.

Author

Pages

Popular Post

Blog Archive